Posted by: ppnimks | March 29, 2008

Perawat Kesehatan Bisa Buka Praktek Mandiri Seperti Dokter dan Bidan

Perawat kesehatan pada era sekarang ini, tidak lagi identik dengan pembantu dokter seperti masa lalu. Eksistensi dan kredibilatasnya, diakui berbagai kalangan telah maju dan berkembang menjadi kelompok profesional. Tenaga keperawatan sekarang, tidaklah beda dengan profesi seorang bidan atau dokter, bisa membuka tempat praktek pelayanan perawatan kesehatan. Bahkan sekarang, banyak sudah yang menyandang sarjana S1 atau Doktor.

Hal ini disampaikan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Bandung, Wawan Hernawan S.Pk ketika silaturahmi dan audiensi dengan Walikota Bandung, H. Dada Rosada SH, M.Si, di Bumi Kitri, Jalan Cikutra Bandung, Kamis (13/3/09). Dihadiri Ketua Komisi D DPRD, Drs. H. Kadar Slamet dan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandung, dr. H. Gunadi S Bhinekas.

Wawan menuturkan, anggota PPNI Kota Bandung saat ini beranggotakan lebih dari 3.500 orang tersebar di rumah-rumah sakit pemerintah, swasta, TNI, Polri, Puskesmas dan lembaga-lembaga pendidikan keperawatan, 90 % diantaranya telah berkeluarga.

”Ini merupakan potensi yang dapat membantu kebijakan pembangunan Pemkot sebagai tenaga promosi kesehatan, memajukan, mengembangkan dan memantapkan Bandung Sehat 2007 karena visi dan misi PPNI selaras ,” kata Wawan yang merasa bangga, profesi keperawatan di Indonesia sekarang, telah mendapat perhatian besar dari Pemerintah Pusat, dengan adanya kotak tersendiri pada salah satu Dirjen di Departemen Kesehatan RI.

Walikota mengatakan, dalam perspektif makro, aspek kesehatan merupakan modal berharga menjadikan manusia memiliki harkat, derajat dan martabat. Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar, selain pendidikan, sandang dan perumahan. Kesehatan menjadi salah satu indikator Indeks pembangunan Manusia (IPM).

Untuk tercapainya sasaran dan target pembangunan bidang kesehatan ini, dikatakan walikota, diperlukan kesadaran kolektif masyarakat, yang secara sadar, mandiri dan terorganisir dapat melakukan upaya meningkatkan derajat kesehatannya disamping peran Pemkot sendiri melakukan terobosan dalam pelayanan kesehatan.

Walikota yakin, usaha pembangunan kesehatan di Kota Bandung akan lebih efektif, jika didukung segenap elemen masyarakat termasuk PPNI. Diharapkan menjadi agen penggerak untuk meningkatkan kualitas dan derajat kesehatan masyarakat, melalui aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Eksistensi PPNI ditengah masyarakat, dikatakan walikota, selain ditentukan seberapa besar rasa bangga dan komitmen anggota menjalani profesi dengan baik, tapi juga harus mampu menjalin kerjasama dengan organisasi lain termasuk dengan Pemkot.

”Dengan modal pengetahuan yang terasah dan pengalaman praktis, saya percaya Bandung Sehat ke depan akan lebih mantap. Terimakasih atas dukungannya, semoga di ulang tahunnya ke 34, PPNI makin dewasa, profesional, cerdas dan mandiri,” kata walikota. (www.bandung.go.id)
Di Posting : BAKOMINFO, dibaca: 132 kali(Jum’at, 14 Maret 2008)

About these ads

Responses

  1. good…………^_^

  2. Sebagai pensiunan dari jajaran kesehatan saya menjadi prihatin terhadap saudara-saudara saya yang menyandang profesi perawat. Dengan gigihnya ingin mensejajarkan diri dengan tenaga dokter dan bidan, dengan mengejar selembar ijazah setara S1. S2 atau S3. Mereka lupa dasar dasar profesionalisme yang di sandang.

    Kami ingatkan bahwa Profesionalisme didasari dari :
    1. Pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan,
    2. Keterampilan yang diperoleh melalui praktek dan pengalaman ( minimal
    melalui Co As),
    3. Sikap dan perilaku yang diajarkan dan di bentuk sewaktu mengikuti
    pendidikan.
    Semua itu di syahkan dengan selembar kertas Ijazah dan disyahkan oleh negara melalui Undang-undang. Sudahkah kurikulum pendidikan perawat itu di kembangkan minimal seperti kurikulum Fakultas Kedokteran atau kebidanan ?.

    Berjuang untuk memasukkan Perawatan Kesehatan Masyarakat ( PHN ) menjadi salah satu program pokok Puskesmas saja sampai saya pensiun, teman-teman perawat tidak berhasil. kenapa ? yah kembali lagi teman-teman perawat fanatik terhadap kurikulum ortodoknya, tidak mau mengembangkan ilmu keperawatan sesuai dengan kondisi Indonesia. Pada hal banyak masalah-masalah kesehatan penting yang sekarang terabaikan dan malah belum dilirik sama sekali, Lahan itu peluang bagi teman-teman agar bisa eksis di lapangan.

    Misalnya : Tidak semua penderita penyakit menular berabat rawat inap dan mereka tinggal di tengah-tengah masyarakat,
    Banyak pasien rawat inap yang masih harus melanjutkan pengobatannya di rumah, dan banyak lagi yang memerlukan perhatian

    Dengan kata lain asuhan keperawatan tidak harus di dalam gedung. Kalau perlu pendidikan keperawatan di kembangkan menjadi dua peminatan Keperawatan klinis dan keperawatan kesehatan masyarakat.

    Potensi yang sekian besarnya itu ternyata kan tidak semua nyangkut di Rumah Sakit kan ? Lah kalau pendidikannya hanya Keperawatan Klinis terus bekerja di Puskesmas atau Puskesmas Pembantu atau di Poskesdes, apa yang bisa dikerjakan ? mau merebut profesi orang ? Atau mau bawa spoit kanan kiri ? ya maluuuu aaaah !!!. Memang Depkes seneng mengadakan pelatihan karena itu bisnisnya. Tapi ingat profesi bukan di dapat dari pelatihan.

    Saran saya :
    a. KEMBANGKAN PENDIDIKAN PERAWAT, DENGAN PEMINATAN
    kEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT
    b. UPAYAKAN KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT (PHN) MENJADI
    SALAH SATU PROGRAM POKOK PUSKESMAS
    c. GAK USAH BERPIKIR KELUAR NEGERI DULU, MASYARAKAT INDONESIA
    MENUNGGU ULURAN TANGANMU


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: